Sebuahsuara's Blog

Sebuahsuara's Blog

Tersenyum.. hanya kata ini yang dapat mewakili pagiku hari ini. Hari ini setangkai mawar segar kembali tergeletak di depan kamar kos ku, tanpa ku tau dari mana datangnya.

Entah perasaan apa yang bergejolak dalam hati ini, senang, bingung, penasaran, semuanya bercampur menjadi satu. Setangkai demi setangkai mawar ini datang menghampiriku, hingga hari ini telah genap berjumlah 30 tangkai. Ingin sekali aku mengikatnya menjadi serangkaian mawar yang indah, namun tangkai-tangkai mawar di hari pertama telah mulai berguguran.

Mawar ini sungguh mewarnai hari-hariku, semuanya terasa lebih indah setelah mawar-mawar ini tiba menghampiriku. Tersenyum sepanjang hari bukanlah hal yang lazim ku lakukan, namun mawar segar ini mampu membuatku tersenyum melebihi es krim terlezat di jagat raya ini.

Bahkan di tempat sesepi ini, mawar-mawar ini dapat membuat suatu keramaian yang hanya dapat ku rasakan sendiri. Mawar-mawar ini menciptakan suatu kedamaian tanpa dapat aku sadari. Dulu kamar ku adalah tempat paling terkutuk sejagad raya, disini…

Lihat pos aslinya 770 kata lagi

Iklan

Tersenyum.. hanya kata ini yang dapat mewakili pagiku hari ini. Hari ini setangkai mawar segar kembali tergeletak di depan kamar kos ku, tanpa ku tau dari mana datangnya.

Entah perasaan apa yang bergejolak dalam hati ini, senang, bingung, penasaran, semuanya bercampur menjadi satu. Setangkai demi setangkai mawar ini datang menghampiriku, hingga hari ini telah genap berjumlah 30 tangkai. Ingin sekali aku mengikatnya menjadi serangkaian mawar yang indah, namun tangkai-tangkai mawar di hari pertama telah mulai berguguran.

Mawar ini sungguh mewarnai hari-hariku, semuanya terasa lebih indah setelah mawar-mawar ini tiba menghampiriku. Tersenyum sepanjang hari bukanlah hal yang lazim ku lakukan, namun mawar segar ini mampu membuatku tersenyum melebihi es krim terlezat di jagat raya ini.

Bahkan di tempat sesepi ini, mawar-mawar ini dapat membuat suatu keramaian yang hanya dapat ku rasakan sendiri. Mawar-mawar ini menciptakan suatu kedamaian tanpa dapat aku sadari. Dulu kamar ku adalah tempat paling terkutuk sejagad raya, disini sunyi, dan aku tak suka itu. Tapi sekarang, mawar-mawar ini telah mengubah segalanya.

Dulu aku tak pernah percaya pada cinta yang tak harus memiliki, tapi saat ini aku mulai mencintainya, mencintai sesosok lelaki yang bahkan aku tidak tau siapa, seorang lelaki yang berhasil mewarnai hari-hariku tanpa kehadirannya, sesosok lelaki maya yang belum berani menunjukan wujudnya di hadapanku.

Jujur di dalam setiap senyumanku, terselip segelintir kekhawatiran, rasa khawatir akan ada atau tidaknya sosok ini, rasa takut apakah semua ini hanya lelucon belaka, rasa takut sosok itu tidak akan pernah memiliki keberanian untuk menunjukan dirinya. Ini adalah hari ke-30 dan ia tidak meninggalkan sedikitpun jejak, hanya setangkai mawar dengan kertas kecil bertuliskan  ‘TO: TAMMY’

Senyum dan kekhawatiran ini beradu dalam batinku, dalam pikiranku, dalam hayalku, mereka-reka apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah ini akan berhenti sampai disini, atau akan berlanjut sampai datang lagi mawar-mawar yang selanjutnya, perasaan inilah yang menghantui ku setiap harinya, perasaan takut mawar ini berhenti datang dan tidak dapat mewarnai hari-hariku kembali.

Tok.. tok.. tok..

Ketukan pintu kamar membuyarkan semua hayalanku. Aku tidak merasa mengundang seseorang untuk datang, bahkan aku tidak memesan makanan melalui layanan pesan antar sore ini.

Tok.. tok.. tok..

Ketukan pintu kembali terdengar, aku tidak mungkin membiarkan siapapun yang ada di luar membuat kegaduhan di kos-kosan ini. Aku pun mulai beranjak dan memutar kunci kamar, membuka pintu kamarku dan tercengang melihat siapa yang berada diluar.

“Tedy? Lo ngapain disini? Biasanya lo ga pernah mau naik ke atas? Ga bilang-bilang lagi mau dateng! Woo!” kataku kaget melihat keberadaan Tedy, sahabatku yang selalu enggan naik ke atas setiap menjemputku kemanapun tujuan kami.

“Hehehe, em… kaget ya gue dateng? Kapan lagi kapten basket SMA swasta ter-oke di bekasi nyamperin lo, ke depan kamar pula! Hahaha.” Tawanya agak gugup menanggapi kekagetanku barusan.

“Yeee, itu jaman SMA kali! Sekarang udah kuliah woy, udah ga laku lo! Hahaha.” ejek ku meledek Tedy.

“Tapi tetep laku dong di hati lo! Haha. Ikut gue yuk!” kata Tedy menanggapi ejekan ku.

“Ha? Kemana? Udah sore kali!” kata ku ragu, hendak menolaknya.

“Yaa justru karna udah sore, ayo ikut gue! Waktunya pas banget nih!” ajak Tedy menarik ku keluar dari kamar.

“Kemana sihh?? Aduhhh, iyaiyaaa!”

Aku pun kehabisan kata dan mau tak mau aku mengikuti arah tanganku, arah tanganku yang sekarang berada dalam genggaman tangan Tedy.

Kamar kos ku terletak dilantai 3, Tedy tidak pernah mau naik ke atas, katanya naik ke kamar ku hanya membuang-buang waktunya yang bisa dia pergunakan untuk hal yang lebih mulia, seperti beramah tamah dengan Mang Udin, satpam tempat kos ku. Yah, itu kan hanya alasan klise Tedy  yang sangat pemalas ini, dan alasan ini pula yang langsung membuatku memblokir Tedy dari sang ‘secret admire’ ku, naik ke atas saja dia malas, apalagi sampai repot-repot meninggalkan setangkai mawar segar didepan kamarku.

Tedy terbiasa memacu motornya dengan kecepatan penuh, setiap aku mengeluh dia selalu berkata “Kalo mau pelan-pelan besok gue jemputnya naik sepeda aja!” jika sudah seperti ini maka aku tidak dapat berkata-kata lagi selain berpegangan erat padanya, dan saat-saat inilah, aku selalu merasa tenang, aman dan nyaman, bersama Tedy selalu membuatku nyaman, ini yang membuatku betah bersahabat dengannya, kami sudah bersahabat sejak SMA, dan segala tingkahnya yang sulit di tebak tidak pernah membuatku bosan.

Setelah kurang lebih 1 jam melewati padatnya Jakarta, kami tiba di pantai terdekat. Entah apa maksudnya mengajak ku ke tempat ini, hati dan ragaku merasa aman bersamanya, membuat ku malas mengelak lagi dari ajakannya.

Di tempat ini, aku melihat deburan ombak saat matahari terbenam.

Ia menemaniku saat ini, berada disisiku.

Menggenggam tanganku, seakan takut aku ikut terbenam bersama mentari.

Sebuket bunga mawar merah berjumlah tepat 30 tangkai telah berada ditanganku, yang mengungkapkan semua perasaannya.

Bahunya yang kokoh membuatku semakin yakin untuk menyongsong kehidupan bersamanya.

Detik demi detik berlalu, matahari benar-benar terbenam di depan mataku.

Ia mengecup keningku, merangkul bahuku penuh kehangatan, membuatku aman dan nyaman dalam pelukannya.

Berjalan menyusuri indahnya pantai ini, mengecup pundak tanganku penuh cinta.

Saat inilah aku yakin, dia lah seseorang dalam penantianku selama ini.

Seseorang yang akan menemani mimpi-mimpi buruk ku.

Seseorang yang akan menghapus air mataku, dan seseorang yang akan tertawa bersamaku saat kebahagiaan datang menyapa kami.

Seseorang itu sahabatku sendiri, malaikat yang Tuhan kirimkan untuk mewarnai hari-hariku

Sesosok yang selama ini aku nantikan, sesosok yang aku takutkan tidak akan pernah datang, telah muncul ke hadapanku dan mengungkapkan segalanya, menyatakan semua perasaannya kepadaku.

Kabut buram ini telah habis, kabut buram yang menemani ketakutanku telah tersingkir, habis dimakan setiap pengakuannya kepadaku, dan perasaanku tidak dapat menolaknya, aku juga mencintainya.

Tedy, terimakasih untuk setiap warna baru yang kau berikan dalam hari-hariku, terimakasih untuk warna-warna yang menjadi lebih indah dari pelangi di akhir musim hujan.Image

Malam ini dia datang lagi. Dia, malaikat yang Tuhan kirimkan untuk menemani malam-malamku. 

Malam-malamku sebelumnya terasa begitu sepi tanpanya, namun saat dia datang, semuanya terasa berwarna lagi.

Dua malam lalu, ia menemaniku datang ke kantor ayah. Aku memperkenalkannya pada ayah, mereka terlihat akrab, aku senang 🙂

Malam yang lalu ia mendatangi rumahku dengan emosi yang sangat meluap-luap, ia marah karna aku tidak memberinya kabar satu hari itu. Ia marah besar kepadaku, namun kemudian, ia memelukku, dan aku senang :’)

Dan tadi malam, ia menemaniku pergi ke kampus, aku memperkenalkannya pada teman-temanku. Ia terlihat bersahabat dengan mereka, aku senang 🙂

Dan hampir setiap malam ia menanyakan kabarku, apakah aku baik-baik saja, dimana akau berada dan apakah aku sudah merasa kenyang malam ini, karna dia tau, saat lapar aku tidak dapat tidur. Aku senang 🙂

Tak ada kata yang dapat terucap atas semua kebahagiaan dan warna yang Tuhan berikan kepadaku, sebelum tidur hanya satu doaku kepada Nya, semoga aku dapat bertemu lelaki itu dalam mimpi-mimpiku selanjutnya 🙂

-Malaikat Mimpiku-

Melihat deburan ombak saat matahari terbenam.

Ia menemaniku saat ini, berada disisiku.

Menggennggam tanganku, seakan takut aku ikut terbenam bersama mentari.

Sebuket bunga mawar merah ditanganku mengungkapkan semua perasaannya.

Bahunya yang kokoh membuatku semakin yakin untuk menyongsong kehidupan bersamanya.

Detik demi detik berlalu, matahari benar-benar terbenam di depan mataku.

Ia mengecup keningku, merangkul bahuku penuh kehangatan, membuatku aman dan nyaman dalam pelukannya.

Berjalan menyusuri indahnya pantai ini, mengecup pundak tanganku penuh cinta.

Saat inilah aku yakin, dia lah seseorang dalam penantianku selama ini.

Seseorang yang akan menemani mimpi-mimpi buruk ku.

Seseorang yang akan menghapus air mataku, dan seseorang yang akan tertawa bersamaku saat kebahagiaan datang menyapa kami.

Seseorang itu kamu,

malaikat yang Tuhan kirimkan untuk mewarnai hari-hariku :’)

-malaikat ku-Image

Bukan hal yang sulit bagiku untuk melupakan Anjar. Hari demi hari berlalu, Anjar merupakan masa lalu sekaligus lembaran kehidupan yang sudah seharusnya aku tinggalkan. Aku sudah memikirkan semuanya dengan matang. Tak pernah terbersit sedikitpun di otakku kata penyesalan. Bahkan mungkin ini keputusan paling tepat yang pernah ku ambil dalam hidupku. Menyakitkan memang, tapi aku takut akan lebih menyakitkan bila hubungan ini terus berlanjut.

Aku tau, jalan yang akan aku lalui kedepan tidak akan mudah. Aku seperti wanita di persimpangan, tak tau kemana harus melangkah. Bimbang menentukan arah, bimbang menentukan tujuan. Namun satu yang aku tau, aku harus tetap melangkah, walau entah kemana. Senja ini begitu sunyi, rangkaian awan sedari tadi telah menelan mentari, mentari bumi ini dan mentari dihatiku. Burung-burung pun telah kembali ke sarangnya, layaknya hatiku yang telah kembali ketempatnya, sendiri, di dalam raga ini.

Tempat ini terasa sunyi, tak seperti beberapa menit lalu, lalu lalang kendaraan, kicauan merdu burung gereja, desiran angin menyapu pepohonan riuh bersautan. Tempat ini sunyi, sesunyi hatiku saat ini. Kesedihan menyergap hatiku tanpa ampun, mengingatkanku pada masa lalu terindahku, masa lalu bersama Rinal, 1 tahun yang akan sangat sulit terlupakan. Masa lalu yang membuat semuanya terasa serumit ini.

“Riani? Kamu Clara Andriani dari club fotografi ITB kan?” suara itu terdengar di belakangku, aku menoleh.

“Ya, anda tepat sekali. Tapi anda siapa ya?” tanyaku. Aku ragu pernah mengenalnya, bahkan wajahnya tidak familiar sama sekali.

“Oh ya, perkenalkan, aku Rinal Samudra dari club fotografi Universitas Padjajaran, aku yang bertugas membimbing kamu selama peliputan pertandingan kali ini.” Jawab lelaki di depanku.

Aku memperhatikannya, “Jadi anda Rinal sang fotografer profesional itu? Yayaya, perkenalkan nama saya Clara Andriani.”

“Hahaha. Kamu terlalu membesar-besarkan, rilex saja, dulu juga saya sama seperti kamu, meliput berita kesana-kemari, tapi tunggu dulu, saya punya 1 pertanyaan untuk kamu.” Tawanya renyah, pembawaannya menarik, mungkin ini akan jadi peliputan yang  mengasikan, diluar biasanya.

“Oh ya? Aku juga punya pertanyaan untuk mas.” Jawabku balik bertanya.

“Wah, kalau begitu silahkan kamu dulan saja, hahaha.” Ia terlihat terkejut mendengar kata-kataku barusan, mungkin dia sedang memikirkan apa yang ingin aku katakan.

“Hahaha. Pertanyaanku ga terlalu menarik kok mas, lebih baik mas dulu saja.” Jawabku yang juga tentu saja penasaran dengan pertanyaan yang akan dilontarkannya.

“Hmm, baiklah. Ini pertamakalinya aku membimbing mahasiswa wanita di pertandingan sepak bola. Aku agak bingung? Kenapa kamu yang dikirim kesini? Apakah stok lelaki di club fotografi kalian sudah habis?” tanyanya panjang lebar.

Aku sempat ragu. Aku pikir dia berbeda dengan lelaki lainnya yang menganggap remeh wanita, ternyata sama saja. Apa maksud pertanyaannya? Ini memang tugas pertamaku meliput pertandingan Sepak  Bola, tapi apa memang seharusnya di remehkan seperti ini? Ini bahkan keinginanku, meliput pertandingan ini adalah impianku.

“Hey, kenapa bengong begitu? Bukan maksudku meremehkanmu loh, maaf bila pertanyaanku menyakitimu, ini hanya unik bagiku, haha, yaa, sedikit unik.” Tanya Rinal lagi, mungkin aku berpikir terlalu jauh, bahkan ia tak berniat meremehkanku.

“Oh, haha. Iya enggak apa-apa mas, bukan salah mas juga. Aku yang menginginkan job ini, aku suka bola, haha.” Jawabku polos, aku hanya tidak ingin memperpanjang masalah ini.

“Good kalau gitu, kita ga akan  bisa kerja maksimal di bidang yang ga kita suka kan? So, selamat bergabung.” Rinal tersenyum lembut padaku, ternyata itu senyuman selamat datang, senyuman yang mengajakku masuk ke dunianya, melihat semuanya, melihat dirinya, melihat pribadinya, dan melihat Rinal mulai mengambil hatiku secara perlahan.

“Eh, kayanya ada yang aneh nih, please jangan panggil aku mas, itu terkesan aku tukang baso banget.” Protes Rinal sembari berjalan menuju salah satu bagian belakang gawang.

“Hahahah, enggak separah itu kok, aku juga manggil tukang ketoprak dengan sebutan mas.” Aku mulai tertarik bercanda dengannya, Rinal menarik dan tidak membosankan, oke 1 lagi nilai plus untuknya.

“Keliatan banget yaa aku kalo pagi dagang ketoprak?” tanya Rinal dengan wajah memelas yang malah membuat aku gemas.

“Yah mass, jangan nangis gitu dong, hahaha. Iya iya deh, jadi aku harus panggil apa?” tanyaku, yang muai benar-benar gemas dan refleks mencubit lengannya.

Rinal terlihat kaget dengan tindakanku. Seketika aku melepasnya, menunduk, aku malu, mukaku memerah padam. “Ups, emm, so.. sorry mas. Kebawa suasana.” Jawabku gugup.

“Hahahahaaha…….” tawa Rinal meledak. Loh, kok dia malah ketawa? Tanyaku dalam hati. Aku masih menunduk, tak kuasa mendongak dan melihat apa yang terjadi. Dia ga mengatakan apapun lagi. Aku mulai bingung, ini sebenarnya ada apa. Sekitar 5 menit aku menunduk dan situasinya masih sama, kami diam di tengah riuhnya suara supporter masing-masing kubu di stadion ini.

Aku mendongak hendak meminta maaf saat kupikir Rinal masih marah atas kejadian tadi dan ternyata, Rinal hilang. Ia meninggalkanku sedari tadi. Haaah? Bodohnya aku, kemana pembimbing sialan itu pergi. Aku memandang sejauh yang ku bisa dan akhirnya menemukan sosoknya tengah sibuk mengambil gambar pertandingan di dalam lapangan. Aku bergegas lari untuk menyusulnya, namun kesialan tidak hanya sampai disini.

Saat aku ingin melangkahkan kaki masuk lapangan, “Maaf mba, boleh saya lihat kartu Passnya?” tanya salah satu pengawas lapangan yang menahanku masuk.

“Loh, kartu Pass apa sih pak? Saya ini mahasiswa ITB yang mau meliput pertandingan ini pak.” Jawabku menjelaskan panjang lebar.

“Wah, maaf yaa mba, kalo tidak punya kartus Pass ya tidak bisa masuk. Semua rekan media disini juga masuknya pake kartu Pass mba.” Jawab petugas itu lagi yang mengingatkanku pada kata-kata Tetra seniorku dan membuatku lemas seketika.

 “Riani, nanti lo disana tungguin Rinal yang anak Padjajaran dulu ya, kartu Pass lo ada di dia.” Kata-kata mutiara Tetra sebelum aku pergi.

“Aish, siap bu boss! Pengawas lapangannya gue kedipin juga di buka jalannya.” Candaku pada Tetra.

“Haa iya terserah lo deh,asal  jangan sebut nama gue kalo lo di raup satpol pp yaa.” Jawab Tetra dengan wajah polosnya.

“Doa lo sial banget! Udah ah gue cabut, bye tete..” jawabku sambil lalu.

“Jangan panggil gue ituuu!!!!! Hhhh, dasar tuh anak!”

Teriakan kesal Tetra yang tadi membuatku tertawa terbahak-bahak sekarang rasanya ingin membuatku menangis, aku sudah berada di stadion ini dan pada akhirnya tidak dapat meliput apapun.

“INI SEMUA SALAH RINAL!! AAAAAAAA!” teriakku kesal tanpa sadar dimana keberadaanku. Beberapa orang memandangku curiga tidak terkeculai petugas yang sedari tadi sibuk mencurigaiku, menyangka-nyangka, siapa sebenarnya wanita ini, apakah maling gawang atau penculik pemain bola. Hhhhh, aku putus asa.

 “Kenapa teriak-teriak mba? Ga jadi masuk nih?” tanya petugas tadi bingung melihat tingkahku.

Aku melihat kedalam, Rinal sudah jauh, lagipula dia terlihat sibuk sekali dengan SLR dan lensa Telenya yang mungkin lebih panjang dari belalai gajah. “Ga jadi deh pak, kartu Pass saya kebawa temen saya.” Jawabku lemas.

“Wah, kalau begitu maaf mba saya ga bisa bantu, karna kalau mau masuk harus ada kartu Pass mba.” Jawab petugas tadi meminta maaf.

“Hmm, iya pak enggak apa-apa kok, sebenarnya bisa sih kalo bapak mau bantu saya.” Jawabku mulai iseng.

“Wah, bantu apa tuh mba?” tanya petugasnya penasaran.

“Jitakin orang yang pake kaos biru kotak-kotak itu pak, nah ini buat bapak.” Kataku menunjuk Rinal sambil menyodorkan uang 10 ribu rupiah.

“Wah mba, saya enggak berani tuh, nanti kalo orangnya marah gimana.”  Kata petugas itu berniat mengembalikan uang 10 ribu yang aku berikan.

“Aduh pak, bilang aja salam jitak dari Riani, di tunggu di warteg depan stadion gitu.” Kataku menenangkan bapak petugas itu.

“Oh, oke deh mba. Nanti saya sampaikan yaa.” Kata petugas itu tersenyum setuju.

“Makasih bapak.” Setelah mengucapkan terimakasih aku pun melenggang pergi, tertawa puas, berharap Rinal datang marah-marah ke Warteg depan stadion. Lagipula, aku masih penasaran, dari mana dia tau nama panggilanku Riani.

BERSAMBUNG 😛

Sore yang indah, kupandangi alam yang berbalutkan selimut awan, suatu kemegahan yang tak akan pernah terbayar dengan apapun. Menyelami kedahsyatan Yang Maha Kuasa, dataran luas yang terbentang indah tanpa batas, perpaduan yang sempurna, langit dan daratan, sungguh membuktikan tanda kasih sayang Sang Pencipta yang luhur.

Langit mulai memerah, menelan mentari yang tengah lelah bersinar sesiangan, menemani setiap insan melewati sekali lagi kesempatan untuk menyelami kedahsyatan Yang Maha Esa. Kesempatan bersyukur, yang kadang bahkan terabaikan oleh berbagai rutinitas duniawi.

Hanya di tempat ini, ada perasaan teduh yang menjalar, aku merasakan ketenangan, burung-burung terbang bersamaan, menikmati luasnya lautan awan yang tak terkirakan, pepohonan rindang tak lagi menjadi penghalang laju mereka, yang terlihat tak ingin melewati indahnya mahakarya Sang Pencipta. Melihat megahnya alam ini, terlalu naif rasanya bila aku tidak bersyukur atas karuniaNya selama ini.

Tempat ini pula yang menyadarkanku atas kemegahanNya, menyadarkanku untuk bersyukur atas besarnya kasih Sang Pencipta bagi hidup, dunia dan anganku. Bukan suatu tempat yang istimewa, tapi tempat ini pula yang menyaksikan kedewasaanku, tempatku tertawa, tempatku menangis, tempatku takjub dan tempatku belajar menyelami luasnya dunia yang tak terkirakan ini.

Hidup dalam kebohongan memang bukan pilihan hidup yang tepat, namun terkadang kebohongan itu sendirilah yang terlihat menyelamatkan.  Catat, hanya terlihat menyelamatkan. Awalnya terasa manis dan akhirnya pahit, kebohongan itu bak permen karet, manis dan menarik di awal namun setelah zat perasa itu habis terhisap, permen ini terasa pahit dan hanya akan berakhir dijalanan.

Dan apa yang terjadi sekarang? Permen karet itu sedang kulumat, kurasa tak sampai 5 menit lagi zat perasa itu akan habis. Aku membohongi diriku sendiri, di tempat terindah, tempat terakhir yang ingin ku hianati, tapi sekarang aku disini, menghianati diriku sendiri.

“Riani! Kumohon turun sekarang. Aku hanya butuh penjelasan, aku butuh bicara!” hanya suara itu yang ku dengar sedari tadi, suara yang semakin lama semakin melemah, suara keputus asaan. Itu suara Anjar, pacarku, setidaknya 2 jam yang lalu, sekarang statusnya telah berubah menjadi mantan pacarku.

Aku menangis, bukan tangis penyesalan, aku hanya merasa bersalah. Lima bulan sudah ku lewati bersama Anjar, 5 bulan yang terasa 5 abad bagiku. Lima bulan penuh tekanan. Bukan, segera simpan pikiran kalian jika kalian berpikir  Anjar adalah lelaki buaya darat yang menyiksa pacarnya secara lahir batin. Anjar tidak seperti itu, bahkan Anjar tegolong lelaki sempurna. Dia tampan, mapan, cerdas dan mau bekerja keras. Apa yang kurang dari lelaki seperti Anjaraksa Pratama, yang secara jasmani dan rohani telah matang? Umurnya baru 24 tahun dan ia telah berhasil meraih jabatan French Manager di sebuah perusahan ternama di Jakarta.

Umur kami berbeda 4 tahun, dan inilah mimpiku selama ini, memiliki pasangan dengan jarak 4 tahun, bagiku jarak itu cukup untuk memaksanya mengalah bila kami berselisih paham. Apa yang dicari wanita kota jaman sekarang? Bukankah hanya materi dan ketampanan, bila itu sudah di dapatkannya, akan didekapnya rapat-rapat sampai ia benar-benar memilikinya. Munafik bila aku mengatakan tidak menginginkannya, tapi ada sesuatu bagiku yang lebih penting, CINTA. Aku merasa, aku tidak dapat membalas kesempurnaan cinta Anjar, klise memang, namun itulah yang kurasakan.

Anjar mencintaiku apa adanya, ia mau menerima segala kekuranganku, bahkan pembicaraan yang menyerempet jenjang pernikahan beberapa kali ku dengar keluar dari mulutnya. Aku takut, aku takut tak akan pernah bisa mengimbangi rasa sayangnya padaku. Aku takut ia hanya membuang waktunya untuk mencintaiku. Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya, kebohongan ini telah melukai banyak hati, hati Anjar dan hatiku sendiri. Pada awalnya aku menikmati kebersamaan kami, namun lambat-lambat aku merasa bosan, aku merasa aku tidak dapat membalas rasa sayangnya. Anjar yang selalu penuh kesabaran menghadapiku, membuatku muak, membuatku merasa terlalu bebas.

Tangisku belum reda, aku tak mungkin menemui Anjar di bawah, aku tak akan mampu bicara, menjelaskan perasaanku yang rumit ini bukanlah hal yang mudah. Sementara suaranya terus memanggilku, suara putus asanya “Clara Andriani, kumohon! Turunlah! Aku ga peduli apa ini akan jadi pertemuan kita yang terakhir, aku hanya butuh penjelasanmu! Kumohon!”

Sudah kuputuskan, tak akan ku temui Anjar hari itu, aku mulai mengetik pesan di ponselku.

To : My Lucky *bodohnya namanya belum kuganti*

Anjar, maaf aku ga bisa. Kalaupun kita bertemu, aku tak akan bisa menjelaskan apapun. Aku ga bisa bicara sekarang, aku harap kamu bisa hargai keputusan aku.

Setelah mengirim pesan itu, aku kembali membenamkan wajahku di kedua telapak tanganku. Suara Anjar tak lagi terdengar. Mungkin ia sudah lelah dan pulang. Aku kembali menangis. Sekali lagi menodai tempat terindah ini dengan tangisan. Dan tidak sampai 3 menit kemudiann terdengar bunyi dari ponselku yang menandakan adanya pesan baru.

From : My Lucky *bodoh! belum juga sempat ku ganti namanya*

Aku ga ngerti mau kamu apa? Sepertinya hari kemarin berjalan dengan lancar, kenapa tiba-tiba semua berubah? Jangan salahkan aku jika aku belajar untuk membencimu.

Dan, terjadilah! Kemungkinan terakhir yang aku takutkan akan terjadi. Ia akan membenciku. Sesungguhnya bukan hal ini yang aku inginkan. Sebuah pertemanan, atau bahkan persahabatan bukan hal yang buruk kan bagi dua insan yang pernah menjalin cinta? Mengapa ia malah membuatnya semakin rumit. Aku mulai mengetik pesan

To : Anjar *kuganti namanya sebelum mengetik pesan balasan*

Sometimes something happens with no reason. Apa kita ga bisa coba buat berteman? Terlalu klasik, bermusuhan setelah putus hubungan .__.  Thats hurt me too, but please behave more mature!

Akan sangat sulit baginya mengetahui alasanku yang sebenarnya. Karna sebelumnya kami pernah membahasnya, aku pernah bertanya, “Sayang, kamu ga bosen ketemu aku setiap hari?” Anjar menjawab, “Sayang, aku ga akan pernah bosen sama kamu, sampai kapanpun itu. Aku malah takut kamu yang bosen” Aku terdiam,  kata-kata Anjar barusan membuatku berpikir,bahkan saat ini aku telah merasakan kejenuhan itu. Anjar menatapku dengan lembut, ia berkata, “Beri tau aku saat kebosanan itu datang yaa, kebosanan bukan suatu masalah dalam suatu hubungan kok.” Aku hanya dapat tersenyum, senyuman getir. Anjar berkata pada orang yang tepat, aku bahakan membohongi diriku sendiri, aku jenuh! Jenuh sama hubungan ini Anjar!

Hal itulah yang membuatku sulit mengatakannya pada Anjar. Dia akan melakukan hal apapun agar kami dapat tetap bersama. Termasuk membunuh rasa jenuhku padanya, yang sekarang sedang menjalar menggerogoti hatiku. Ponselku berbunyi. Pesan masuk.

From : Anjar

Mungkin ini mudah untukmu, tapi tidak untukku. Bagiku pertemanan hanyalah kebohongan! Aku akan terus membohongi diriku bahwa aku masih mencintaimu. Kedewasaan adalah saat dimana kita bisa membicarakan masalah yang ada dan menyelesaikannya, bukan melakukan keputusan sepihak seperti ini!

Anjar selalu seperti ini, kata-katanya selalu membunuh argumentku. Aku sudah tak bisa lagi berkelit. Ia benar. Anjar selalu benar dan aku selalu salah. Semua yang ia ucapkan adalah kenyataan. Sayangnya aku sulit berdamai dengan kenyataan. Hidup dalam angan dan impian terasa lebih indah bagiku, dari pada aku harus menelan kenyataan-kenyataan pahit yang sering terjadi pada normanya. Aku terdiam, kembali membenamkan wajahku. Tak ada hasrat lagi untuk beradu argument dengannya. Aku lelah. Ku letakkan ponselku tanpa membalas pesannya. Tenggelam dalam dunia pikiranku, sampai dering ponselku menyadarkanku kembali. Pesan masuk.

From : Anjar

Apa yang kurang? Aku memberikannya semua padamu! Hatiku! Cintaku! Perhatianku! Kenapa harus berakhir seperti ini? 😦

Cinta anjar! Cinta! Aku tidak bisa lagi mencintaimu! Bahkan semua yang kau lakukan hanya membuatku bosan. Memberikan semua yang kumau, dan apa balasan dariku, aku tidak bisa melakukan apapun! Aku tak lagi mencintaimu, perasaan setiap insan tak akan bisa dipaksakan. Rasa cintaku habis tertelan setiap perhatianmu. Anjar terlalu sempurna, aku takut ia berharap terlalu jauh. Aku diam. Kuletakkan ponselku, aku berdiri, menghirup sejuknya udara kota Bogor. Aku terlalu lelah menangis, lelah menyiksa batinku sendiri. Aku tersadar, jika memang harus berakhir seperti ini,  apa lagi hal yang bisa ku perbuat? Setidaknya sekarang aku tak lagi hidup dalam kebohongan. Lega rasanya, batu yang mengganjal hatiku kini telah terangkat 🙂

BERSAMBUNG :p

Udah terlalu lama kayanya ninggalin blog, hmmm. Bahkan lupa kapan terakhir ngeblog :p Sekarang udah mau mulai nulis lagi nih. Tapi sekarang nulis karangan, bener-bener pure karangan. Jadi jangan ada yang ngerasa geer-_- ini cuman fiktif belaka kok :p kalo ada kesamaan tokoh atau cerita berarti kalian lagi sial aja :p gausah kepo dehh, ahaha. Buat om, tante, papa, mama, mba, mas, ini cuman karangan belaka buat ngisi waktu liburan yang terus terbuang-buang percuma-_- dr pd mubazir mending nulis kann? jadi gabole ada yang protes yaa, kalo ada kata yang salah abdi ngahaturkeun maaf .__.v hehe. Selamat membaca 😀


    • MissYellowpink: kok serem sih :(
    • Ade Eja: emang kalo di tol cipularang itu memang rawan kecelakaan.....dan bnyk hantu yang berkeliaran tetapi di situ memang banyak orang yang kecelakaan *_*
    • MissYellowpink: Reblogged this on Yellowpinklovers's

    Kategori